Keramaian siang itu seperti aku acuhkan saja ketika pemandangan indah itu ada, ia berjalan menuju ke arah ku. Teduh sekali ketika lengkungan tipis itu muncul dari bibirnya, rambutnya yang tipis lurus sebahu berikan kesan bahwa ia siswi sederhana menurutku. Oh tuhan… betapa senangnya aku saat itu. Ia akhiri langkahnya tepat di sebelah bahuku, tepat di antara aku dan salah satu temanya yang sepertinya menunggu sudah cukup lama duduk,
“M
aaf aku telat” dengan suara rendah mencoba menyatakan maaf pada gadis lain di sebelahnya, kemudian ku tolehkan wajahku ke arahnya, dan ternyata ia pun menatap ku, terlihat mata yang aku rasa hanya dia lah satu-satunya yang memiliki mata seperti itu. “
sekarang?” ia berikan pertanyaan itu pada gadis di sebelahnya, kemudian dibalas dengan anggukan tanpa bicara, menampakkan sikap kesal dari gadis yang sedari tadi dibuatnya menunggu agak lama.
Seketika itu juga kuurungkan niat berkenalan, tanganku yang tadinya bergetar menahan bimbang untuk coba berjabat tangan dengannya sudah aku lemaskan ke dalam saku. Aku takut suasana itu malah bukan seperti yang aku inginkan. Sekali lagi ia jatuhkan pandangannya padaku dengan sedikit senyuman sebelum ia melangkah menjauh bersama gadis yang berdiri di sebelahku sebelum ia tiba tadi, saat yang tepat untuk menampilkan senyum paling ramah dari bibirku, menurutku.
Kepergiannya kulepas dengan senyuman terbaik hingga ia menghilang ke dalam sebuah angkot. Hingga angkot yang ia tumpangi berlalu dari penglihatan, kemudian aku berjalan menuju angkot lain yang berbeda arah. Belum sempat aku melangkah, tiba-tiba “
ehm… “ terdengar batuk kecil dengan nada menyindir di tambah senyum lebar dari seorang lelaki penjaga toko yang bersebelahan dengan tempat aku berdiri, baru lah aku sadar bahwa lelaki itu memperhatikan aku dan senyuman bodoh yang tadi menghantarkan gadis bermata indah itu menuju angkot. Dengan langkah sedikit cepat, ku balas senyum lelaki itu dengan malu yang tertahan di kedua sisi muka.
Aku berada di dalam angkot yang aku pilih karena perangkat dengar musiknya mengeluarkan suara dari lagu-lagu sendu yang akrab dengan telinga. tak aku pedulikan orang-orang di sekitarku dengan wajah lelah setengahnya masam. Aku mengingat lagi fragmen sekilas yang sempat berlangsung tadi, teringat pada wajah dengan mata indah yang aku rasa hanya ialah satu-satunya pemilik mata yang seperti itu, aku menundukkan kepalaku agar mereka tidak terusik ketika aku tersenyum sendiri dan aku pun tidak ingin terusik dengan melihat wajah-wajah yang berada di dekatku.
Setibanya aku di rumah, senyum itu masih terbayang jelas menghantarkan aku lelap di atas tempat tidurku siang itu, berharap esok akan bertemu lagi.
Bak Sherlock Holmes detektif pesohor rekaan dalam novel, beberapa hari kemudian aku coba mencari tau tentang pemandangan indah yang aku temukan waktu itu. Usahaku tak sia-sia. Kudapat namanya, dimana ia tinggal, hingga bahkan bangku mana yang ia duduki di kelas. Tetapi yang aku ketahui selanjutnya adalah hal yang tidak aku ingin aku ketahui. Ia jatuhkan hatinya pada lelaki yang jika di bandingkan denganku, akan membuat aku merasa teramat jauh di bawahnya. Dan hampir saja aku mengurungkan niatku untuk mencoba kenal lebih dekat dengan gadis bermata indah yang sepertinya hanya ia lah satu-satunya pemilik mata yang seperti itu. Sekilas kurasakan getaran perasaan untuk mundur.
Namun setelah kutelaah, tak ada salahnya jika aku hanya berkenalan saja dengannya, toh hanya berjabat tangan dan saling ucapkan nama, paling-paling juga di ikuti dengan pertanyaan-pertanyaan sekedarnya saja. Lagipula tak ada larangan untuk kenalan dengan orang lain meskipun orang itu sudah berjodoh, bukan? Atas dasar inilah niatku yang tadi tetap kusemat dalam hati. Satu hal yang kuyakini bahwa Tuhan juga senang dengan umatnya yang berusaha.
Harap-harap cemas aku berdiri di tempat yang sama, dengan waktu yang sama seperti aku pertama kali aku menemukan pemandangan indah waktu itu. Ya… apa yang aku harapkan ahirnya tiba, ia datang dengan senyumnya, dengan mata yang mulai aku rindukan.
“H
ai….” Kusapa ia tanpa bisa menghentikan goresan senyum paling ramah di bibir yang tiba-tiba saja tersungging karenanya.
“H
ai…” jawabnya lembut menempatkan dirinya tepat di sampingku, menghadap kearah yang sama denganku.
Tiba-tiba seolah ada yang memainkan drum dengan kecepatan yang ugal-ugalan dalam dadaku, detak jantungku menjadi beberapa kali lebih cepat. Disusul dengan kebingunganku. Suasana tiba-tiba hening. Sesaat kami terdiam, suhu siang itu membuat aku sedikit berkeringat, dan ahinya dengan mengesampingkan malu aku mulai membuka tangan ke arahnya, “
namaku jhon…” dan lihatlah nona, senyum ini tak akan sama ketika aku berjumpa dengan orang-orang lain; senyuman ini yang datangnya dari hati, dari perasaan senyum yang memang begitu adanya—tak dibuat-buat, senyum yang memang kupersembahkan untukmu saja.
Nyaman rasanya ketika ia mengucapkan namanya. Itu saat pertama kali perasaanku mulai terasa tak karuan. Tapi buru-buru aku menjejak tanah, mencoba berlogika, aku harus tau diri. Ia sudah dipunya orang. Ada jurang menganga antara aku dan nona itu, namun setidaknya aku telah berhasil kenalan dengan nona si pemilik mata indah yang aku rasa hanya ialah satu-satunya pemilik mata yang seperti itu saja sudah cukup menyenangkan. Ah, Tuhan maha pengasih ketika ia menurunkan mujizatnya pada mata perempuan indah ini.
Momen berkenalan itu tak kulanjut. Sejak saat itu aku hanya melihat dari kejauhan, karena aku tak ingin terlalu jauh mengembangkan perasaan kagum pada nona itu.
Sialnya, semakin aku coba menjauh, aku semakin kagum padanya, hingga ahirnya ia pergi dari kotaku, ia tak pernah lagi berdiri di sana, dan aku kehilangan keteduhan ketika matahari tepat di atas kepala..
Oh nona dengan mata indah, aku berharap bisa menatap mu seperti dulu, meski tanpa perbincangan. Aku berharap kelak ada kesempatan satu kali saja untuk kita saling bertatapan.. Aku rindu kamu nona bermata indah…